Kolom Mahasiswa

Atas Nama Pendidikan

Pernah hadir seorang guru yang memengaruhi pendidikan di seluruh dunia. Buah metode dan konsep pembelajarannya dipakai dan terbukti ampuh. Ia  dapat merubah kondisi pendidikan dunia, termasuk Indonesia. Guru itu bernama Maria Montessori, lahir di Ancona, Italia pada 13 Agustus 1870.

Saat dipercaya mengasuh sebuah Pra-Pendidikan yang kini dikenal Pendidikan Usia Dini (PAUD), pada 6 Januari 1907 di San Lorenzo, Roma, Montessori mengembangkan gagasan briliantnya tentang usia dini yang disebut “pendidikan memerdekakan”. Sebuah konsep yang sangat menekankan dan menghargai eksistensi anak didik/siswa.

Montessori pernah berkata, “tugas seorang guru bukan sebatas berkata-kata, melainkan mempersiapkan serangkaian motif pembelajaran yang menyenangkan-melekat dan khusus atau cocok untuk dunia siswa. Sehingga anak-anak bisa terangsang dan mampu menyalurkan ide-ide kreatifnya sebagai sesuatu pengalaman sendiri.” 

Kita tahu pengetahuan bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh seorang pendidik. Pengetahuan lahir dari proses alamiah dalam diri manusia. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman dan penghayatan, bukan dari banyaknya bahasa-bahasa dan kata-kata.

Pada 1897, Montessori diminta untuk berkunjung ke sebuah Rumah Sakit Jiwa Roma. Ia bertemu dengan anak-anak kecil yang di masyarakat dicap “bodoh” dan “nyebelin”, karena kecerdasannya sungguh keparat minim. Tapi dengan ketelatenan bimbingan Montessori, mereka seperti menemukan dunia baru, yaitu menemukan dirinya sendiri.

Anak-anak ini dibimbing melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana dengan kemauan dan kemampuannya sendiri-sendiri. Dibimbing mulai dari cara makan, memasukkan nasi kedalam mulut, cara mandi, membuka kancing dan sebagainya dengan caranya sendiri. Dan ternyata mereka mampu melakukannya dengan baik. Dari situlah kita menyadari bahwa sesungguhnya anak-anak yang dicap “bodoh” ini memiliki kemauan dan kemampuan secara baik dan mandiri. Asal mereka diberi kesempatan, bimbingan, dihargai, maka pancaran kemauan akan muncul niscaya.

Memerdekakan

Mendidik adalah memberikan ruang peserta didik sesuai passionyang akan membentuk pribadinya. Tapi,jujur saja, yang sering terjadi di sekolah-sekolah kita ruang itu tidak ada. Bahkan, sering kali siswa dijejali pelbagai materi tanpa kejelasan, apa manfaat dan relevansinya materi itu bagi hidupnya masa kini atau masa yang akan datang. Sehingga waktu mereka dihabiskan dikelas dengan rasa lelah, tanpa dinikmati dan dirayakan.

Alasannya adalah pengajaran yang diajarkan disekolah tak dimaksudkan hanya untuk mentransfer pengetahuan semata, tetapiharus juga menjadi sarana pendidikan bagi anak didik dalam unsur pembentukan kepribadian mereka. Merujuk pada J. Sumardianta dalam buku Guru Gokil Murid Unyu(2013), “murid akan lupa jika hanya mendengar ceramah guru. Murid akan mengingat apa yang diperlihatkan gurunya. Murid akan memahami bila melakukan. Murid akan menguasai bila menemukannya sendiri. Sungguh sangat lebih baik bila pendidik terukur dan dapat mengaitkan materi ajar dengan bakat dan minat pribadinya dan kalau bisa pada lingkup dunia sekitar.

Oleh karena itu, dalam pengajaran, anak didik dilatih berfikir, bertanya, dan ia perlahan-lahan memahami bagaimana pengetahuan tersebut—dan apakah dapat diuji kesahihannya. Melalui pengetahuan itu mereka dapat bersikap sesuai ukuran dengan dipandu pendidik. Artinya, pendidik tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus mempertajam nalar, membentuk watak, dan mematangkan kepribadian peserta didik. Meskipun disitu dituntut adanya rasa merdeka, sikap terbuka, dan kesabaran tinggi. 

Langkah selanjutnya adalah guru dalam proses belajar-mengajar harus mengaitkan materi dengan isu-isu yang berkembang—menghubungkan tentang konsep-konsep teoritis dengan keadaan sekitar. Supaya siswa bisa mengetahui bagaimana ia merumuskan masalah dan mengambil kesimpulan dan tindakan demi keberlangsungan hidup manusia dan alam sekitarnya. Sebab, pendidikan menjadi tidak bermakna sama sekali jika tercerabut dari masalah-masalah krusial masyarakat.

Merujuk pada Joseph Ernest Mambu (2019) secara keseluruhan dalam proses pembelajaran harus saling keterkaitan. Pendidik, pembelajar, masyarakat, dan isu-isu sosial harus dilibatkan bersama. Dengan syarat menggali-mengenali potensi masing-masing, tanpa kehilangan orientasi dan batasan-batasan atau aturan-aturan tertentu yang  berlaku. 

Jelas bahwa perlunya usaha untuk merumuskan perlbagai pola belajar-mengajar yang baru. Apalagi dengan perkembangan teknologi makin canggih kini, generasi milenial lekat dengan komputer dan internet. Sebagian besar waktu mereka dilewatkan dengan memainkan jemari di atas layar sentuh.

Kenyataan ini menjadi tantangan sekaligus jadi acuan bagi para guru. Olehnya, guru harus melek teknologi dan mampu mamanfaatkan sekaligus menerjemahkan kemajuan teknologi secara tepat dan proporsional dalam proses pembelajaran.

Pada titik ini, pendidikan mesti menjadi sesuatu yang menyeluruh, bukan parsial, apalagi pragmatis. Ia membutuhkan kreativitas dan inovasi baru serta realistis. Pendidik diharapkan mampu menemukan ide-ide briliantseperti Montessori yang sesuai dengan tuntutan zaman. Agar, anak didik tidak sekedar menjadi peniru, tetapi menghasilkan karya kreatif. Itulah tugas pendidik(an).[]

Agus Wedi. Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Surakarta. Bergiat di Serambi Kata, IAIN Surakarta.

Comment here